21 November 2013

Boleh Nambah Nasi Liwetnya?

Sekitar dua bulan lalu, kantor tempat saya bekerja kedatangan seorang auditor independen dari Hong Kong. Ditunjuk oleh mitra bisnis kami di London, auditor tersebut berencana mengaudit kinerja kami selama lima hari kerja. Dia minta kami memanggil dengan nama depannya, Allan. Seperti kebiasaan orang Solo pada umumnya ketika menyambut tamu, kami ingin membuatnya merasa betah dan nyaman. Apalagi itu adalah kunjungan pertamanya ke Solo.

Gudeg Adem Ayem (Foto: kuliner.panduanwisata.com)
Hari pertama kami mengajak Allan makan siang di rumah makan Adem Ayem di Jalan Slamet Riyadi. Dia terlihat antusias melihat foto beberapa menu makanan yang terpampang di standing banner, dan bertanya perbedaan antara menu satu dengan menu yang lain. Ketertarikannya makin terlihat saat gudeg pesanannya datang. Dia bertanya bahan pembuat gudeg dan krecek. Ketika mengetahui gudeg berasal dari nangka muda, dia bilang, “Wah, saya tak menyangka nangka muda bisa dibuat makanan. Sedikit pedas, tapi enak.” Dia menyantapnya sampai tandas. Rupanya nasi juga merupakan makanan pokok di Hong Kong.

Kami menyuguhi Allan beragam penganan kecil dalam dus yang berbeda tiap harinya. Ada kue ku, sosis, onde-onde, getuk, wajik, semar mendem, lemper, nagasari, klepon, dan berbagai makanan tradisional lain. Mungkin karena heran dengan kebiasaan kami ini, dia bertanya apakah menyajikan makanan kecil dalam dus adalah hal yang lumrah di Solo. Dia lalu bercerita, “Saya sudah mengaudit ke berbagai perusahaan di banyak negara, tapi saya tidak pernah mendapat camilan seperti ini ketika bekerja. Apa mungkin karena mereka tidak punya makanan tradisonal, ya?” Kami hanya tersenyum mendengar komentarnya. 

Di sela-sela proses audit, dia bertanya nama tiap jenis makanan yang ada di dus lalu mencicipi dan mengomentari tiap makanan. Rata-rata tanggapannya positif dan dia selalu lahap ketika makan. Saya sampai bertanya ke dia, “Enak, Allan? Sepertinya kamu tidak pernah merasa aneh ketika mencicipi makanan kami. Biasanya orang asing kalau pertama kali mencoba makanan baru, ada saja yang terasa aneh di lidah. Tapi, sepertinya kamu asyik-asyik saja.” Dia pun menjawab bahwa dia menyukai wisata kuliner sehingga selalu menikmati ketika mencicipi makanan baru. Oh ternyata....

Ada dua hal yang dia keluhkan selama di Solo. Pertama tentang cuacanya yang panas. Kami maklum karena kami sendiri sering merasa gerah dengan suhu rata-rata 30-an derajat Celcius saat siang hari, apalagi Allan yang berasal dari negara yang memiliki empat musim. Keluhan keduanya adalah mengenai macet. "Sabtu malam, perjalanan saya dari bandara ke hotel Solo Paragon memakan waktu hampir satu jam. Padahal sebenarnya tidak terlalu jauh, kan? Saya lihat sendiri jaraknya melalui Google Maps." Saya lalu menjelaskan bahwa jalanan di Solo saat malam Minggu cenderung padat karena banyak warga yang keluar rumah untuk makan, ke pasar malam Ngarsopuro, atau sekadar menikmati malam bersama keluarga dan teman-teman.

Selat
Istirahat makan siang adalah saat di mana kami bisa berinteraksi lebih akrab dengan Allan sambil mengajaknya mencicipi makanan khas Solo. Sama seperti ketika makan gudeg, pria berusia 39 tahun itu juga bisa menikmati selat. "Manis ya, but it's good." Dia lalu bercerita tentang negaranya, pengalamannya berkunjung ke negara-negara lain, bahkan sesekali berkisah tentang kehidupan pribadinya. Hanya beberapa hari berinteraksi, kami merasa seperti teman yang telah kenal selama bertahun-tahun. 

Ketika bertemu dengan orang dari daerah atau negara lain, biasanya saya dan kebanyakan masyarakat Solo, akan mengenalkan apa saja yang ada di kota ini. Begitu pula rekan-rekan kerja saya di kantor. Kami secara bergantian bercerita tentang Kota Bengawan kepada Allan. Kami menunjukkan Istana Mangkunegaran ketika melewatinya, kereta api uap Jaladara yang kebetulan melintas, bercerita tentang batik, wayang, dan beragam acara seni budaya berskala internasional yang digelar sepanjang tahun. Kami berharap, Allan mendapat pengalaman dan informasi yang menarik selama di Solo dan nantinya bisa bercerita kepada keluarga dan teman-temannya di Hong Kong atau negara lain tentang kota ini.

Ketika malam hari, rekan saya sesama pria mengajak Allan keluar untuk menikmati kuliner serta melihat suasana Solo waktu malam. Pria berkacamata itu sangat terpesona melihat nasi liwet yang ditaruh dalam pincuk (wadah) daun pisang. Dia mengabadikan nasi gurih itu melalui androidnya. Mungkin nantinya mau dipamerkan kepada teman-temannya. Setelah beberapa saat menikmatinya, Allan bertanya, “Boleh nambah nasi liwetnya? Nasinya separuh saja, tapi telurnya utuh ya.” Teman saya tersenyum lebar mendengar permintaannya. Menurut Allan, porsi makanan di Solo terlalu sedikit untuknya. "Porsi di Hong Kong sekitar dua kali lipat dari porsi di sini."

Nasi Liwet

Suatu pagi di hari terakhir audit, tiba-tiba Allan menunjukkan sesuatu di laptopnya. “What is it?” tanyanya sambil menunjukkan laman dari wikipedia tentang rijsttafel. Saya dan dua teman bergantian membaca dan memperhatikan foto makanannya. Melihat uraiannya sedikit, teman saya bilang, “Saya tidak tahu, tapi sepertinya ini adalah cara penyajian makanan di mana banyak piring berisi lauk dihidangkan. Seperti di rumah makan padang yang kita kunjungi kemarin malam, Allan.” 

Pria jangkung itu mengangguk, namun wajahnya terlihat belum puas. Rupanya Tuhan sayang Allan. Ketika kami ke restoran Ramayana di Jalan Imam Bonjol No. 149, di daftar menu tercantum menu yang ditanyakannya itu. Kami pun memesannya sambil tertawa mengingat perbincangan kami sebelumnya. “Guys, kalian orang Indonesia kok nggak tahu rijsttafel, ya?” tanyanya sambil tertawa. Wah, kami merasa tertohok. Rupanya kami harus belajar lebih banyak untuk menjadi duta wisata yang baik.

Rijsttafel (Foto: foursquare.com)

Rupanya rijsttafel di  restoran ini menggabungkan berbagai macam lauk dalam satu wadah, yaitu tampah, yang diberi alas daun pisang. Lauknya berupa trancam, empal, ayam, tahu, tempe, sate ayam, sambal, serta lalapan. Berbeda dengan bayangan kami ketika membacanya di wikipedia.

Akhirnya audit pun usai dan Allan akan segera terbang ke Jakarta untuk mengaudit dua perusahaan di sana. Melalui kata-kata perpisahannya, dia berterima kasih atas keramahtamahan kami. Dia merasakan kesan yang belum pernah dia jumpai di berbagai kota dan negara yang dia kunjungi. Betapa dia terkesan diajak berwisata kuliner atau menikmati Solo di waktu malam. Dia hanya mengalaminya ketika di Solo. Bahkan, sewaktu beberapa tahun silam ke Jakarta untuk melakukan audit, dia selalu makan siang sendiri dan hanya menghabiskan malam-malamnya di hotel. Kesan tentang Solo tak akan pernah dia lupakan katanya. Dia pun berpesan jika kami ke Hong Kong, supaya menghubunginya. Dia berjanji akan mengajak ke dim sum terlezat di sana. Asyiikkk... Tapi, kapan bisa ke Hong Kong ya?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kesan. Kompetisi Tulisan Tentang Solo

2 komentar: